Cerita ini aku persembahkan untuk
seseorang yang selalu ada saat suka maupun duka. Dialah orang yang selalu
menginspirasiku…
Orang yang selalu mengerti akan semua
cerita keluh kesahku…
Cinta Tak Burujung
Namaku Dea, aku kini tengah menempuh
pendidikan di salah satu SMK Swasta di kotaku, aku tinggal bersama orang tuaku.
Aku termasuk anak yang baik dan pintar di sekolahku, selain itu aku juga
termasuk anak yang cantik dan manis, gitu sih kata teman-temanku. Aku mempunyai
seorang sahabat yang bernama Rani, aku sudah bersahabat sejak aku duduk di
bangku SMP. Rani adalah sosok sahabat yang baik, dia selalu mau mendengarkan
keluh kesahku apalagi kalau urusan dengan cowok luar biasa responnya, yahh…
begitulah sahabatku.
Hari itu kedua bola mata ku masih
menatap hujan dari jendela kelasku, yang memang kini giliran saat musim hujan
beraksi, setelah musim panas yang berlalu dengan sendirinya. Entah apa yang ada
di pikiranku sekarang, entah apa yang menghalangi pendengaranku, aku terkejut
ketika sahabatku memanggilku.
“Dea..
De…Deaaaa!”
“Hah?
Eh iyaaa? Kenapa?” sahutku setelah Rani memanggilku bekali-kali.
“Lo
kenapa?” Tanya Rani memastikan.
“Gak
kok, gua fine-fine aja hehehe.” jelasku seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
“Kantin
yuk!” ajak Rani mengalihkan topik pembicaraan seolah tidak peduli denganku.
“Gak
aah, gua lagi males.” jawabku dengan ekspresi datar
“Ya
udah, gua cabut dulu ya.” jawab Rani kemudian yang seakan sudah tau tentang apa
yang terjadi dengan sahabatnya dan sekaligus mengakhiri pembicaraan.
Rani
mulai menginggalkan ruang kelas karena sudah waktunya istirahat. Sementara itu,
Dea, melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Matanya kembali
tertuju pada hujan yang masih juga turun dengan derasnya. melihat hujan yang
seakan juga sedang melihatku. Memperhatikan setiap langkah kilatnya, berharap
sang hujan mengetahui arah tujuan hatiku juga mendengar raungan hatiku. menyaksikannya
dengan penuh kepekaan, seolah hujan itu mengerti tentang apa yang aku rasakan
dan mengetahui persis tentang apa yang terjadi pada diriku. Suara gemuruh
sebagai ciri khas pembawaannya, seolah sedang berbisik dengan batinku. Meski
lalu lalang anak-anak yang mulai bertebaran menghalangi pemandnagan yang sedang
asik aku tonton, aku tak peduli. Sampai pada akhirnya bel pun menyadarkanku dari
lamunan itu sekaligus sebagai tanda bahwa jam istirahat telah usai.
Selang
beberapa menit kemudian, Ibu Vega, guru
piket pada hari selasa datang memberikan tugas mencatat. Beliau menyampaikan,
bahwa Ibu Yesi, guru matematika tidak bisa mengajar karena beliau sedang sakit.
Tentu hal ini menjadi kabar gembira bagi anak-anak yang tidak menyukai
pelajaran matematika.
“Dea,
gua duduk di sini ya?” suara sosok yang selama ini ada dalam pikiranku, kini
terlintas jelas dalam otakku bahkan dalam jangkauan pengelihatanku, sebut saja
Ari.
“Oh
iya, duduk aja”. sahutku dengan nada yang masih terasa kaget dan terkesan agak
salting gitu.
“Eh,
Dea temen sebangku lo kemana?” sambung ari kemudian membuka pembicaraan.
“Hah,
Eh siapa? Fika? Hmm… gua kurang tau, Ri.” sahutku ngasal. Padahal sebenarnya aku
tahu alasan temanku Fika tidak masuk kerena sedang ada acara nikahan
kluarganya.
“Lo
kenapa, Dea? kok kayak orang gugup gitu? Lo sakit? Apa lagi ada masalah?” kata Ari yang sontak membuat aku shock dan
terlebih GR.
“Eh
gak kok, Ri. Sorry, gua lagi gak konsen nih.” jawabku.
“Oh
ya udah, lo kalo ada masalah cerita aja ke gua, siapa tau gua bisa bantu.” kata
Ari dengan memberikan setitik senyum maut di wajahnya itu dan ini membuatku
menaruh harapan lebih ke Ari.
“hmmm…
Thanks, Ri!” jawabku singkat. Mulutku seolah terkunci, blank! sampai aku tak
tau apa yang harus aku sampaikan lagi. Detak jantungku beroprasi lebih cepat
dari biasanya.
Jam
pelajaranpun telah berakhir. Aku dan Rani berjalan bersamaan tiba-tiba Ari
lewat di depanku sambil tersenyum padaku sontak aku terkaget dan salting. Rani
pun heran melihat tingkahku dan akupun menceritakan semuanya kepada Rani bahwa
selama ini aku memendam rasa kepada Ari.
Hari
demi hari telah berjalan, aku masih memendam rasa itu terhadap Ari, aku
berpikir bahwa mungkin aku akan menjadi penggemar rahasia Ari. hari-hariku
lewati penuh dengan lamunan dan hayalan.
“Dea?”
suara itu terdengar lagi ditelingaku, aku bener-benar kaget melihat sosok Ari
di hadapanku.
“Hah?
ehh iya, Ari, ada apa?” jawabku dengan gugup
“Gua
boleh duduk di sini?” kata Ari sambil tersenyum kepadaku
“iii..iiya
boleh” jawabku dengan sangat gugup. Ari memegang tanganku itu membuat seketika
tangaku menjadi dingin, tubuhku penuh keringetan dan detak jantungku berpacu
sangat cepat. Pikiranku kacau entah apa yang aku rasakan saat itu, benar-benar
blank! rasanya mau pingsan begitu saja.
“Dea,
gua gak tau harus bilang apa ke lo, yang gua tau pikiran gua penuh
dibayang-bayangi dengan sosok lo Dea, mungkin ini yang namanya cinta…setelah
gua pikirkan lagi ternyata gua jautuh cinta sama elo, Dea” ungkap Ari dengan
tatapan tajam ke mataku.
Sumpah
badanku benar-benar terasa kaku, dan mulutku tak mampu mengucapkan sepatah
katapun, aku tak percaya kalau Ari mengatakan hal ini padaku, sampai aku
bertanya-tanya pada diriku apakah ini mimpi? Dan benar saja ini adalah
kenyataan yang sedang aku hadapi, hal yang salama ini aku tunggu-tunggu terjadi.
“yaaa
Tuhan apa yang harus aku katakan?” gumanku dalam hati dan ari melanjutkan
pembicraannya.
“Dea,
gua tau lo pasti bingung kan, lo pasti kaget kan? Gua juga lebih bingung dengan
perasaan gua, semakin hari semakin besar rasa cinta gua ke elo, Dea. Gua bener-bener
jatuh cinta ke elo. Lo mau kan jadi pacar gua?” kata Ari sambil menatap mata
gua dengan penuh harapan.
“iii..ii.. iiya..iya Ari” kataku reflex dari
mulutku karena aku tidak tau lagi harus mengatakan apa, dipikiranku hanya ada
kata iya.
Sejak
saat itu kita telah resmi pacaran. Hari itu mungkin adalah hari yang sangat
bersejarah bagi kami. Kami pun pulang bersama-sama, dalam perjalanan pulang
banyak hal yang kami ceritakan berdua dan kami sepakat bahwa hubungan ini kami
jalani secara diam-diam. Tidak ada satupun teman-temanku yang mengetahui hal
ini kecuali sahabatku sendiri, Rani.
Hari
demi hari telah kami lewati bersama, suka maupun duka telah kami lewati bersama.
Aku sangat bahagia ibarat sebuah taman bunga yang bunganya telah mekar semua
begitulah yang aku rasakan saat itu, penuh dengan warna kehidupan.
Aku
pernah bermimpi bahwa Ari akan meninggalkan aku, di mimpi itu terlihat jelas
bahwa Ari sedang bersama seorang wanita lain, tapi aku yakin bahwa Ari tidak
akan pernah meninggalkanku karna kami tekah berjanji bahwa kami akan saling
menjaga dan saling percaya satu sama lain.
Hingga
akhirnya tahun ajaran baru telah tiba, aku dan Ari merupakan salah satu anggota
Osis kami menjalakan tugas kami sebagai seorang osis yaitu menjadi pendamping
saat masa orientasi siswa atau orang sring menyebutnya dengan bahasa keren
yaitu MOS. Saat itu ada salah satu adik kelasku, Ratna begitu sapaanya. Dia
adalah adik kelas yang dekat denganku itupun awalnya gara-gara aku sering
membantu dia, cuma hal kecil sih hanya sekedar sering mengantar ke kantin.
Diantara osis aku sih rasanya yang paling baik, semenjak saat itu kami dekat
dan saling tukaran nomor telepon, kami sering chat, sering bareng dan
sebagainya.
“Kak, sini deh, Ratna mau cerita sama kakak”
kata Ratna dengan muka yang bergembira seperti sedang dimabuk cinta.
“Kenapa,
dik?” jawabku bertanya-tanya
“Kak,
adik mau bilang sesuatu sama kakak, tapi kakak janji ya jangan bilang ke
siapa-siapa?” kata ratna dengan sangat semangat
“Iya,
dik ceritakan saja sama kakak, siapa tau setelah mendengar adik cerita kakak
bisa ikut merasakan kebahagiaan adik” kataku dengan penuh rasa penasaran
“Kak
Ari itu ganteng ya, Kak?” kata Ari dengan muka manja
“Haaahhh…????”
kataku kaget
“iiihh…
kakak kenapa sih kok kaget gitu? Kakak gak kenapa-kenapa kan?”
“ee…
ee.. enggak dik, kakak gak kenapa-kenapa?” kataku dengan sangat lemas dan saat
itu sahabatku Rani mengelus-elus pundakku.
“Kak,
adik mau jujur, sejak pertama kali bertemu adik jatuh cinta sama kak Ari,
serius kak, entah karna apa tapi itu yang adik rasain kak, adik udah gak kuat
nahan rasa ini kak, kakak setuju kan kalau adik jadian sama kak Ari?” kata
Ratna dengan penuh harapan, berharap dia mendapatkan jawaban dariku.
Aku
terdiam, aku sangat kaget dengan kata-kata itu, aku tidak bisa berpikir sama
sekali, yang aku tau hatiku sangat rapuh saat itu, jujur aku sangat cemburu,
ingin rasanya saat itu aku katakan pada Ratna bahwa akulah pacarnya Ari tapi
aku tidak mau menyakti perasaan Ratna yang saat itu aku lihat wajahnya sangat
bahagia, dan di matanya aku melihat cinta yang tulus terpancar dari bola
matanya. Aku menyadari ini salahku, salahku yang tidak mau jujur dari awal
kepada semua teman-temanku termasuk ratna bahwa akulah pacarnya Ari, wajar
Ratna tidak mengetahui hal itu.
“Kak, kok diem sih?”
Tanya Ratna heran
“Enggak,
dik kakak seneng kok adik bisa jadian sama kak Ari, semoga adik cepet jadian
ya” kataku dengan sangat terpaksa padahal hatiku saat itu sedang hancur
berkeping-keping.
“iya
kak maksi ya doanya, dan adik yakin kalau adik akan segera bisa jadian, segera
mungkin adik akan ungkapkan hal ini ke kak Ari” sambung Ratna dengan penuh
keyakinan.
Rani
mengalihkan pembicaraanku saat itu, karna dia tau dan paham betul dengan apa
yang aku rasakan saat itu. Tak kuasa air mataku menetes karna rasa cintaku
kepada Ari terlalu besar, aku tak sanggup mendengar kenyataan itu dan aku tak
sanggup kehilangan Ari. Saat itu Ari melihatku menangis tapi dia tidak
menghampiri ku karna saat itu Ari sedang sibuk mempersiapkan lomba karna Ari
akan mengikuti sebuah perlombaan. Aku benar-benar rapuh saat itu, Rani
sahabatku, terus memberiku semangat dan dia berusaha menghentikan tangisku tapi
tak bisa karna yang aku rasakan benar-benar membuat hatiku hancur.
Bel
pulangpun berbunyi, semua anak-anak berhamburan pulang, aku dan Rani berjalan
menuju gerbang sekolah, Ari menghampiriku saat itu dan memegang tanganku,
refleks aku melepaskannya karna aku tak mau ada mengetahuinya tertama Ratna.
“Dea,
lo kenapa? Gua ngeliat lo nangis tadi, gua khawatir sama elo” dengan muka yang
penuh dengan tanya.
“Gua
enggak kenapa-kenapa, Ari tadi kepalaku cuma sakit doang kok, gak usah khawatir
aku baik-baik saja. Udah kamu pulang gih, kan besok mau lomba” kataku pada Ari
berusaha menyembunyikan segalanya dari Ari dan kemudian pergi meninggalkan Ari
begitu saja. Dia berusaha mengejarku tapi aku berusaha meyakinkannya bahwa aku
sedang baik-baik saja.
Aku
tau Ari sangat menyayangiku, dia sangat khawatir dengan keadaanku, tapi aku
belum siap mengatakan hal itu pada Ari terlebih aku tak ingin menyakiti
perasaan Ratna. Sejak saat itu aku mulai menghindari Ari walaupun sebenarnya
aku sangat sakit dan tak kuat menghadapi ini setiap hari apalgi Ari teman
sekelasku namun aku tak punya pilihan lain lagi. Aku mulai kembali pada
lamunanku, karna itulah hal yang sangat mengasikkan bagiku. Dengan cara itu aku
bisa mulai melupakan semua msalah yang sedang terjadi. Tentu hal itu membuat
sahabatku sangat khawatir dengan keadaanku yang sekarang terlebih Ari yang
setiap hari selalu bertanya aku kenapa. Jujur sebenarnya aku tak sanggup
berbuat ini pada Ari tapi inilah jalan satu-satunya agar aku bisa membahagiakan
Ratna.
“Dea,
gua gak sanggup ngeliat lo kayk gini, kenapa lo gak mau jujur ke Ratna bahwa lo
itu pacarnya, mau sampai kapan lo menyakiti diri lo, jujur gua gak tega ngeliat
lo seperti ini dan gua juga kasian ngeliat Ari yang setiap hari bersedih
ngeliat lo kayak gini” kata Rani yang saat itu paham betul dengan perasan ku.
Aku
cuma terdiam karna aku tak ingin mengeluarkan sepatah katapun. Aku membayangkan
bagaimana nanti ketika aku tak bersama Ari lagi, apakah aku sanggup menjalani
hal ini sendiri dan aku akan kembali pada hobiku yang dulu yaitu menghayalkan
hal-hal yang tak pasti. Saat itu juga aku membuat keputusan, keputusan yang
sangat berat dalam hidupku. Malam itu aku mengajak Ari pergi ke sebuah rumah
makan tentunya dia sangat senang, namun dia tak tau akan hal yang sebenarnya
ingin aku katakana.
“Tumben
lo ngajakin gua ke tempat ini, gua seneng banget, Dea” sambil memegang tanganku
dan terpancar jelas dimukanya penuh dengan kebahagiaan.
“Sebenarnya
ada hal penting yang ingin gua sampein ke lo, gua…gua.. gua mau putus!” dengan
berat hati aku menyampaikan hal itu.
“Apa?????”
jawab Ari kaget
“Iya
gua mau putus, gua harap lo ngerti dengan keputusan gua, gua terpsaksa
ngelakuin hal ini”
“Tapi
kenapa, Dea kenapa?” kata Ari dengan penuh tanya
“Maaf Ari gua terpaksa, gua gak mau nyakitin,
Ratna” jelasku dan air mataku mulai menetes karna tak kuasa menahan rasa sakit
yang aku rasa, jujur aku tak sanggup untuk mengatakan hal itu.
“Apa
maksud lo?” tanya Ari dengan memegang tanganku semakin erat
“Ratna
mencintai elo dan cintanya ke elo sangat tulus, jujur gua sangat cemburu tapi
gua gak mau nyakitin perasan dia, lo akan sangat beruntung mendapatkan wanita
yang lebih bisa membahagiakan lo. Ari Gua mohon jangan sakitin Ratna, gua udah
anggap dia seperti adik kandung gua, jika lo nyakitin Ratna maka lo sama saja
seperti nyakitin gua” jelasku dengan tegar
“Tapi
Dea, gua enggak cinta ke dia, cinta gua hanya ke elo dan…”
“Ssttt…gua
harap elo ngerti Ri, tolong lo bahagiakan dia, ini salah gua yang enggk pernah
ngizinin elo buat mengakui gua sebagai pacar lo salama ini ke temen-temen.
Wajar dia mencintai lo Ri, karna yang dia tau lo bukan milik siapa-siapa. Gua
harap lo ngerti dengan keputusan gua.” jelasku dengan berusaha meyakinkam hati
Ari.
Tentu
hal itu membuat Ari semakin tidak terima dengan perkataanku, refleks dia
memeluk aku dengan erat. Jujur aku seneng sekali dan aku merasa sangat nyaman
dipelukannya, aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya dan detak jantungnya.
Rasanya tak ingin aku melepaskan pelukan itu tapi aku terpaksa harus melepaskan
tangan Ari.
“Ari,
gua yakin lo pasti bisa tanpa gua, dan gua mau elo bahagia. Cinta itu tidak
harus memiliki Ari, Ratna lebih mencintai elo” jelasku kembali tapi aku melihat
pada mata Ari yang mulai berkaca-kaca.
“Dea,
lo egois, gua gak cinta sama Ratna, kita bisa jelasin sama-sama ke dia” kata
Ari sambil memohon-mohon kepadaku
“Enggk
Ri, enggak gua gak mau nyakitin Ratna, berapa kali gua harus jelasin ke elo.
Sekarang terserah elo mau bilang gua egois, karna mulai hari ini kita sudah
tidak ada hubungan apa-apa. Maaf!” jelasku kembali dan pergi ninggalin Ari
“Dea…
dea… dea…!”
Sejak
kejadian itu Ari bukanlah siapa-siapa aku lagi dan aku mulai kesepian lagi
hanya Ranilah satu-satunya temanku yang selalu setia menemaiku. Aku sadar
mungkin aku adalah orang yang paling jahat yang pernah Ari kenal, tapi
setidaknya aku bahagia karna bisa membuat orang lain bahagia walaupun aku harus
mengorbankan cintaku. Terahir aku mendengar bahwa sampai saat ini Ari masih
sangat mencintaiku, begitu juga aku tapi aku sudah cukup bahagia. Karna bagiku
bahagia itu sederhana, tak harus memiliki cukup dengan melihat dia bahagia maka
aku bisa tersenyum. Karna aku tau bahwa cinta itu tak harus memiliki, tetapi
kita paham atas apa yang sedang terjadi karena cinta. Mencintaimu ibarat mawar
berduri, indah tetapi sulit untuk aku miliki.