Selasa, 12 Mei 2020

CERPEN REMAJA, CINTA, MENYEDIHKAN

Cerita ini aku persembahkan untuk seseorang yang selalu ada saat suka maupun duka. Dialah orang yang selalu menginspirasiku…

Orang yang selalu mengerti akan semua cerita keluh kesahku…

 


Cinta Tak Burujung

Namaku Dea, aku kini tengah menempuh pendidikan di salah satu SMK Swasta di kotaku, aku tinggal bersama orang tuaku. Aku termasuk anak yang baik dan pintar di sekolahku, selain itu aku juga termasuk anak yang cantik dan manis, gitu sih kata teman-temanku. Aku mempunyai seorang sahabat yang bernama Rani, aku sudah bersahabat sejak aku duduk di bangku SMP. Rani adalah sosok sahabat yang baik, dia selalu mau mendengarkan keluh kesahku apalagi kalau urusan dengan cowok luar biasa responnya, yahh… begitulah sahabatku.

Hari itu kedua bola mata ku masih menatap hujan dari jendela kelasku, yang memang kini giliran saat musim hujan beraksi, setelah musim panas yang berlalu dengan sendirinya. Entah apa yang ada di pikiranku sekarang, entah apa yang menghalangi pendengaranku, aku terkejut ketika sahabatku memanggilku.

“Dea.. De…Deaaaa!”

“Hah? Eh iyaaa? Kenapa?” sahutku setelah Rani memanggilku bekali-kali.

“Lo kenapa?” Tanya Rani memastikan.

“Gak kok, gua fine-fine aja hehehe.” jelasku seperti sedang menyembunyikan sesuatu.

“Kantin yuk!” ajak Rani mengalihkan topik pembicaraan seolah tidak peduli denganku.

“Gak aah, gua lagi males.” jawabku dengan ekspresi datar

“Ya udah, gua cabut dulu ya.” jawab Rani kemudian yang seakan sudah tau tentang apa yang terjadi dengan sahabatnya dan sekaligus mengakhiri pembicaraan.

Rani mulai menginggalkan ruang kelas karena sudah waktunya istirahat. Sementara itu, Dea, melanjutkan aktivitasnya yang tadi sempat tertunda. Matanya kembali tertuju pada hujan yang masih juga turun dengan derasnya. melihat hujan yang seakan juga sedang melihatku. Memperhatikan setiap langkah kilatnya, berharap sang hujan mengetahui arah tujuan hatiku juga mendengar raungan hatiku. menyaksikannya dengan penuh kepekaan, seolah hujan itu mengerti tentang apa yang aku rasakan dan mengetahui persis tentang apa yang terjadi pada diriku. Suara gemuruh sebagai ciri khas pembawaannya, seolah sedang berbisik dengan batinku. Meski lalu lalang anak-anak yang mulai bertebaran menghalangi pemandnagan yang sedang asik aku tonton, aku tak peduli. Sampai pada akhirnya bel pun menyadarkanku dari lamunan itu sekaligus sebagai tanda bahwa jam istirahat telah usai.

Selang beberapa  menit kemudian, Ibu Vega, guru piket pada hari selasa datang memberikan tugas mencatat. Beliau menyampaikan, bahwa Ibu Yesi, guru matematika tidak bisa mengajar karena beliau sedang sakit. Tentu hal ini menjadi kabar gembira bagi anak-anak yang tidak menyukai pelajaran matematika.

“Dea, gua duduk di sini ya?” suara sosok yang selama ini ada dalam pikiranku, kini terlintas jelas dalam otakku bahkan dalam jangkauan pengelihatanku, sebut saja Ari.

“Oh iya, duduk aja”. sahutku dengan nada yang masih terasa kaget dan terkesan agak salting gitu.

“Eh, Dea temen sebangku lo kemana?” sambung ari kemudian membuka pembicaraan.

“Hah, Eh siapa? Fika? Hmm… gua kurang tau, Ri.” sahutku ngasal. Padahal sebenarnya aku tahu alasan temanku Fika tidak masuk kerena sedang ada acara nikahan kluarganya.

“Lo kenapa, Dea? kok kayak orang gugup gitu? Lo sakit? Apa lagi ada masalah?”  kata Ari yang sontak membuat aku shock dan terlebih GR.

“Eh gak kok, Ri. Sorry, gua lagi gak konsen nih.” jawabku.

“Oh ya udah, lo kalo ada masalah cerita aja ke gua, siapa tau gua bisa bantu.” kata Ari dengan memberikan setitik senyum maut di wajahnya itu dan ini membuatku menaruh harapan lebih ke Ari.



“hmmm… Thanks, Ri!” jawabku singkat. Mulutku seolah terkunci, blank! sampai aku tak tau apa yang harus aku sampaikan lagi. Detak jantungku beroprasi lebih cepat dari biasanya.  

Jam pelajaranpun telah berakhir. Aku dan Rani berjalan bersamaan tiba-tiba Ari lewat di depanku sambil tersenyum padaku sontak aku terkaget dan salting. Rani pun heran melihat tingkahku dan akupun menceritakan semuanya kepada Rani bahwa selama ini aku memendam rasa kepada Ari.

Hari demi hari telah berjalan, aku masih memendam rasa itu terhadap Ari, aku berpikir bahwa mungkin aku akan menjadi penggemar rahasia Ari. hari-hariku lewati penuh dengan lamunan dan hayalan.

“Dea?” suara itu terdengar lagi ditelingaku, aku bener-benar kaget melihat sosok Ari di hadapanku.

“Hah? ehh iya, Ari, ada apa?” jawabku dengan gugup

“Gua boleh duduk di sini?” kata Ari sambil tersenyum kepadaku

“iii..iiya boleh” jawabku dengan sangat gugup. Ari memegang tanganku itu membuat seketika tangaku menjadi dingin, tubuhku penuh keringetan dan detak jantungku berpacu sangat cepat. Pikiranku kacau entah apa yang aku rasakan saat itu, benar-benar blank! rasanya mau pingsan begitu saja.

“Dea, gua gak tau harus bilang apa ke lo, yang gua tau pikiran gua penuh dibayang-bayangi dengan sosok lo Dea, mungkin ini yang namanya cinta…setelah gua pikirkan lagi ternyata gua jautuh cinta sama elo, Dea” ungkap Ari dengan tatapan tajam ke mataku.

Sumpah badanku benar-benar terasa kaku, dan mulutku tak mampu mengucapkan sepatah katapun, aku tak percaya kalau Ari mengatakan hal ini padaku, sampai aku bertanya-tanya pada diriku apakah ini mimpi? Dan benar saja ini adalah kenyataan yang sedang aku hadapi, hal yang salama ini aku tunggu-tunggu terjadi.

“yaaa Tuhan apa yang harus aku katakan?” gumanku dalam hati dan ari melanjutkan pembicraannya.

“Dea, gua tau lo pasti bingung kan, lo pasti kaget kan? Gua juga lebih bingung dengan perasaan gua, semakin hari semakin besar rasa cinta gua ke elo, Dea. Gua bener-bener jatuh cinta ke elo. Lo mau kan jadi pacar gua?” kata Ari sambil menatap mata gua dengan penuh harapan.

 “iii..ii.. iiya..iya Ari” kataku reflex dari mulutku karena aku tidak tau lagi harus mengatakan apa, dipikiranku hanya ada kata iya. 

Sejak saat itu kita telah resmi pacaran. Hari itu mungkin adalah hari yang sangat bersejarah bagi kami. Kami pun pulang bersama-sama, dalam perjalanan pulang banyak hal yang kami ceritakan berdua dan kami sepakat bahwa hubungan ini kami jalani secara diam-diam. Tidak ada satupun teman-temanku yang mengetahui hal ini kecuali sahabatku sendiri, Rani.

Hari demi hari telah kami lewati bersama, suka maupun duka telah kami lewati bersama. Aku sangat bahagia ibarat sebuah taman bunga yang bunganya telah mekar semua begitulah yang aku rasakan saat itu, penuh dengan warna kehidupan.

Aku pernah bermimpi bahwa Ari akan meninggalkan aku, di mimpi itu terlihat jelas bahwa Ari sedang bersama seorang wanita lain, tapi aku yakin bahwa Ari tidak akan pernah meninggalkanku karna kami tekah berjanji bahwa kami akan saling menjaga dan saling percaya satu sama lain.

Hingga akhirnya tahun ajaran baru telah tiba, aku dan Ari merupakan salah satu anggota Osis kami menjalakan tugas kami sebagai seorang osis yaitu menjadi pendamping saat masa orientasi siswa atau orang sring menyebutnya dengan bahasa keren yaitu MOS. Saat itu ada salah satu adik kelasku, Ratna begitu sapaanya. Dia adalah adik kelas yang dekat denganku itupun awalnya gara-gara aku sering membantu dia, cuma hal kecil sih hanya sekedar sering mengantar ke kantin. Diantara osis aku sih rasanya yang paling baik, semenjak saat itu kami dekat dan saling tukaran nomor telepon, kami sering chat, sering bareng dan sebagainya.

 “Kak, sini deh, Ratna mau cerita sama kakak” kata Ratna dengan muka yang bergembira seperti sedang dimabuk cinta.

“Kenapa, dik?” jawabku bertanya-tanya

“Kak, adik mau bilang sesuatu sama kakak, tapi kakak janji ya jangan bilang ke siapa-siapa?” kata ratna dengan sangat semangat

“Iya, dik ceritakan saja sama kakak, siapa tau setelah mendengar adik cerita kakak bisa ikut merasakan kebahagiaan adik” kataku dengan penuh rasa penasaran

“Kak Ari itu ganteng ya, Kak?” kata Ari dengan muka manja

“Haaahhh…????” kataku kaget

“iiihh… kakak kenapa sih kok kaget gitu? Kakak gak kenapa-kenapa kan?”

“ee… ee.. enggak dik, kakak gak kenapa-kenapa?” kataku dengan sangat lemas dan saat itu sahabatku Rani mengelus-elus pundakku.

“Kak, adik mau jujur, sejak pertama kali bertemu adik jatuh cinta sama kak Ari, serius kak, entah karna apa tapi itu yang adik rasain kak, adik udah gak kuat nahan rasa ini kak, kakak setuju kan kalau adik jadian sama kak Ari?” kata Ratna dengan penuh harapan, berharap dia mendapatkan jawaban dariku.

Aku terdiam, aku sangat kaget dengan kata-kata itu, aku tidak bisa berpikir sama sekali, yang aku tau hatiku sangat rapuh saat itu, jujur aku sangat cemburu, ingin rasanya saat itu aku katakan pada Ratna bahwa akulah pacarnya Ari tapi aku tidak mau menyakti perasaan Ratna yang saat itu aku lihat wajahnya sangat bahagia, dan di matanya aku melihat cinta yang tulus terpancar dari bola matanya. Aku menyadari ini salahku, salahku yang tidak mau jujur dari awal kepada semua teman-temanku termasuk ratna bahwa akulah pacarnya Ari, wajar Ratna tidak mengetahui hal itu.

“Kak, kok diem sih?” Tanya Ratna heran

“Enggak, dik kakak seneng kok adik bisa jadian sama kak Ari, semoga adik cepet jadian ya” kataku dengan sangat terpaksa padahal hatiku saat itu sedang hancur berkeping-keping.

“iya kak maksi ya doanya, dan adik yakin kalau adik akan segera bisa jadian, segera mungkin adik akan ungkapkan hal ini ke kak Ari” sambung Ratna dengan penuh keyakinan.

Rani mengalihkan pembicaraanku saat itu, karna dia tau dan paham betul dengan apa yang aku rasakan saat itu. Tak kuasa air mataku menetes karna rasa cintaku kepada Ari terlalu besar, aku tak sanggup mendengar kenyataan itu dan aku tak sanggup kehilangan Ari. Saat itu Ari melihatku menangis tapi dia tidak menghampiri ku karna saat itu Ari sedang sibuk mempersiapkan lomba karna Ari akan mengikuti sebuah perlombaan. Aku benar-benar rapuh saat itu, Rani sahabatku, terus memberiku semangat dan dia berusaha menghentikan tangisku tapi tak bisa karna yang aku rasakan benar-benar membuat hatiku hancur.

Bel pulangpun berbunyi, semua anak-anak berhamburan pulang, aku dan Rani berjalan menuju gerbang sekolah, Ari menghampiriku saat itu dan memegang tanganku, refleks aku melepaskannya karna aku tak mau ada mengetahuinya tertama Ratna.

“Dea, lo kenapa? Gua ngeliat lo nangis tadi, gua khawatir sama elo” dengan muka yang penuh dengan tanya.

“Gua enggak kenapa-kenapa, Ari tadi kepalaku cuma sakit doang kok, gak usah khawatir aku baik-baik saja. Udah kamu pulang gih, kan besok mau lomba” kataku pada Ari berusaha menyembunyikan segalanya dari Ari dan kemudian pergi meninggalkan Ari begitu saja. Dia berusaha mengejarku tapi aku berusaha meyakinkannya bahwa aku sedang baik-baik saja.

Aku tau Ari sangat menyayangiku, dia sangat khawatir dengan keadaanku, tapi aku belum siap mengatakan hal itu pada Ari terlebih aku tak ingin menyakiti perasaan Ratna. Sejak saat itu aku mulai menghindari Ari walaupun sebenarnya aku sangat sakit dan tak kuat menghadapi ini setiap hari apalgi Ari teman sekelasku namun aku tak punya pilihan lain lagi. Aku mulai kembali pada lamunanku, karna itulah hal yang sangat mengasikkan bagiku. Dengan cara itu aku bisa mulai melupakan semua msalah yang sedang terjadi. Tentu hal itu membuat sahabatku sangat khawatir dengan keadaanku yang sekarang terlebih Ari yang setiap hari selalu bertanya aku kenapa. Jujur sebenarnya aku tak sanggup berbuat ini pada Ari tapi inilah jalan satu-satunya agar aku bisa membahagiakan Ratna.

“Dea, gua gak sanggup ngeliat lo kayk gini, kenapa lo gak mau jujur ke Ratna bahwa lo itu pacarnya, mau sampai kapan lo menyakiti diri lo, jujur gua gak tega ngeliat lo seperti ini dan gua juga kasian ngeliat Ari yang setiap hari bersedih ngeliat lo kayak gini” kata Rani yang saat itu paham betul dengan perasan ku.

Aku cuma terdiam karna aku tak ingin mengeluarkan sepatah katapun. Aku membayangkan bagaimana nanti ketika aku tak bersama Ari lagi, apakah aku sanggup menjalani hal ini sendiri dan aku akan kembali pada hobiku yang dulu yaitu menghayalkan hal-hal yang tak pasti. Saat itu juga aku membuat keputusan, keputusan yang sangat berat dalam hidupku. Malam itu aku mengajak Ari pergi ke sebuah rumah makan tentunya dia sangat senang, namun dia tak tau akan hal yang sebenarnya ingin aku katakana.

“Tumben lo ngajakin gua ke tempat ini, gua seneng banget, Dea” sambil memegang tanganku dan terpancar jelas dimukanya penuh dengan kebahagiaan.

“Sebenarnya ada hal penting yang ingin gua sampein ke lo, gua…gua.. gua mau putus!” dengan berat hati aku menyampaikan hal itu.

“Apa?????” jawab Ari kaget

“Iya gua mau putus, gua harap lo ngerti dengan keputusan gua, gua terpsaksa ngelakuin hal ini”

“Tapi kenapa, Dea kenapa?” kata Ari dengan penuh tanya

 “Maaf Ari gua terpaksa, gua gak mau nyakitin, Ratna” jelasku dan air mataku mulai menetes karna tak kuasa menahan rasa sakit yang aku rasa, jujur aku tak sanggup untuk mengatakan hal itu.

“Apa maksud lo?” tanya Ari dengan memegang tanganku semakin erat

“Ratna mencintai elo dan cintanya ke elo sangat tulus, jujur gua sangat cemburu tapi gua gak mau nyakitin perasan dia, lo akan sangat beruntung mendapatkan wanita yang lebih bisa membahagiakan lo. Ari Gua mohon jangan sakitin Ratna, gua udah anggap dia seperti adik kandung gua, jika lo nyakitin Ratna maka lo sama saja seperti nyakitin gua” jelasku dengan tegar

“Tapi Dea, gua enggak cinta ke dia, cinta gua hanya ke elo dan…”

“Ssttt…gua harap elo ngerti Ri, tolong lo bahagiakan dia, ini salah gua yang enggk pernah ngizinin elo buat mengakui gua sebagai pacar lo salama ini ke temen-temen. Wajar dia mencintai lo Ri, karna yang dia tau lo bukan milik siapa-siapa. Gua harap lo ngerti dengan keputusan gua.” jelasku dengan berusaha meyakinkam hati Ari.

Tentu hal itu membuat Ari semakin tidak terima dengan perkataanku, refleks dia memeluk aku dengan erat. Jujur aku seneng sekali dan aku merasa sangat nyaman dipelukannya, aku bisa merasakan setiap hembusan nafasnya dan detak jantungnya. Rasanya tak ingin aku melepaskan pelukan itu tapi aku terpaksa harus melepaskan tangan Ari.

“Ari, gua yakin lo pasti bisa tanpa gua, dan gua mau elo bahagia. Cinta itu tidak harus memiliki Ari, Ratna lebih mencintai elo” jelasku kembali tapi aku melihat pada mata Ari yang mulai berkaca-kaca.

“Dea, lo egois, gua gak cinta sama Ratna, kita bisa jelasin sama-sama ke dia” kata Ari sambil memohon-mohon kepadaku

“Enggk Ri, enggak gua gak mau nyakitin Ratna, berapa kali gua harus jelasin ke elo. Sekarang terserah elo mau bilang gua egois, karna mulai hari ini kita sudah tidak ada hubungan apa-apa. Maaf!” jelasku kembali dan pergi ninggalin Ari

“Dea… dea… dea…!”

Sejak kejadian itu Ari bukanlah siapa-siapa aku lagi dan aku mulai kesepian lagi hanya Ranilah satu-satunya temanku yang selalu setia menemaiku. Aku sadar mungkin aku adalah orang yang paling jahat yang pernah Ari kenal, tapi setidaknya aku bahagia karna bisa membuat orang lain bahagia walaupun aku harus mengorbankan cintaku. Terahir aku mendengar bahwa sampai saat ini Ari masih sangat mencintaiku, begitu juga aku tapi aku sudah cukup bahagia. Karna bagiku bahagia itu sederhana, tak harus memiliki cukup dengan melihat dia bahagia maka aku bisa tersenyum. Karna aku tau bahwa cinta itu tak harus memiliki, tetapi kita paham atas apa yang sedang terjadi karena cinta. Mencintaimu ibarat mawar berduri, indah tetapi sulit untuk aku miliki.